Sabtu, 01 Mei 2010

PUISIKU 6

DEWI SARTIKA


Oleh: R.A. Syukuri Nikmah



Engkaukah itu berdiri tegap
Menyairkan kecerdasan anak-cucu kami

Telah kering telaga kami tapi kau masih juga
Menyiram nurani yang mengalir dari sajak-sajak kartini

Kamilah luka itu
Terjatuh dalam garis kolonialisme

Lihatlah imperialisme tumpang-tindih
Hingga kami tafakkur dalam wujud kefakiran

Rabu, 21 April 2010

PUISIKU 5

RA. KARTINI

Oleh : R.A. Syukuri Nikmah



Surat yang kau kirimkan tersusun rapi
Seperti kendaraan yang hendak mengantarkan sebuah mimpi
Bahasanya adalah hati yang prihatin

Bertahun-tahun kau tulis prosa
Temanya selalu sama; “habis gelap terbitlah terang”

Apakah sekarang kau masih menulis prosa
Dangan kata-kata didih dan berbisa?

Aku sering memumikanmu dalam novel-novel tua
Juga prosa yang akan kutulis malam ini
Masih atas jiwamu

Sayang! Meski kususuri prosa demi prosa
Novel-novel tua tak mampu membangkitkanmu
Dalam kalender yang semakin celaka

Jumat, 12 Februari 2010

PUISIKU 4

KETIKA CINTA BERSHALAWAT


Oleh : R.A. Syukuri Nikmah



Selamanya ingin kusaksikan embun pagi

Bergerak melepaskan butiran-butiran rindu

Yang telah selesai kususun lewat mimpi

Andai saja tuhan membongkar jasadku

Pastinya hanya serpihan do’a yang tak henti-henti

Bertasbih; Semoga cinta kita kekal abadi


Denies, adakah yang tahu kenangan kita malam itu

Begitu melekat di garis-garis jendela kamarku

Kadang menangis kadang tertawa memikirkan

Hubungan kita yang selaras dengan cuaca


Shalawat cinta yang kau tempelkan dimataku

Menjadi irama mawar berduri

Setiap shubuh tiba, bunga-bunga itu mengalir

Lewat Handphone Nokia 1200 blue


Perjalanan sunyi yang kutempuh

Taklagi membawa gelisah, karena cintamu mengasinkan

Muara airmata

Tataplah sisa bintang yang ada, didalamnya dapat kau susuri

Novel-novel tua yang sempat menulis cerita cinta

Sungguh seribu tahun penantianku tengah akrab

Dengan rindumu yang penuh kimia-fisika

Jumat, 18 Desember 2009

PUISIKU 3

SAJAK NASEHAT


Oleh : R.A. Syukuri Nikmah



Jangan main jalanan becek

Nanti namamu tercemar

Jangan saling menjauh diri

Karena kita menggenggam sholat

Yang nyuruh bersahabat

Minggu, 15 November 2009

PUISI KU 2

TUHAN LAGI SENDIRI


OLEH : R.A. SYUKURI NIKMAH



Jika aku hengkang kelak

Jangan kalian menata gelisah

Karangan bunga. Rawatlah komputer

Buku-buku, dispenser dan rak baju jangan

Sampai mati


Isyarat yang kuterima dari daun senja

Penaku bergerak ke segala cara

Menabur jala dimana tuhan biasa bersahaja

Wajahnya bergayut dibilik mata

Memantapkan dogma airmata yang

Dicipta sembunyi-sembunyi


Di atap-atap etalase, masjid dan gereja runtuh

Kuhangatkan cuaca dengan bergurau ditepi matahari

Dan di ruang-ruang gelap kutatap mata tuhan yang

Lagi sendiri

Senin, 12 Oktober 2009

PUISIKU

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER IN MEMORIAM

oleh: RA. Syukuri Nikmah


Kehadiran dan kepergianku dari ITS ini tak seorang pun tahu
Juga tak pernah kurancang sendiri
Tetapi kalian begitu tepat dan tabah menata langkahku
Sejalin dengan senyum dan pesona jiwa kalian
Terima kasih Bapak Hamzah…! Terima kasih Ibu Nurul…!
Kalian benar-benar menjadi sorga dalam kealpaanku sebagai
Manusia Madura biasa

Sungguh tak dapat kubayangkan
Kalian telah memberi makna kehadiranku sebagai matahari
Yang tak pernah meleset memaknai cahayanya
Hingga nurani ini tak sudi merangkai kata pisah dari kedermawanan dan kesederhanaan kalian
Dengan apa harus kulunasi keagungan yang begitu sempurna itu
Kecuali untaian maaf dan terima kasih yang sedalam dan selebar-lebarnya

Bapak…, Ibu…!
Aku tahu selama ini kalian selalu bicara kebenaran dan keakuratan
Dan aku yakin segenap yang ada pada kalian adalah kefasihan
Yang senantiasa membanjiri setiap detik revisian Thesisku
Meski akhirnya kita harus berbeda arah: aku ke Madura, kalian di Surabaya
Ikhlaskan bolpen kalian bersamaku
Agar hati ini tak menyimpan luka yang menganga oleh perpisahan
Izinkan pula kusimpan raut rupa Bapak & Ibu diruang hati & buku harianku
Agar tiap saat aku punya kesempatan mengabadikan
Senyum kalian yang seperti bugenvil dan flamboyan itu

Bapak…, Ibu…!
Kalian telah meneteskan semangat ketika aku datang bersama sepotong kabut
Yang menyelimuti seluruh aura tubuhku. Kalian membaca wajahku penuh gelora
Penuh garis-garis perhatian dan kausempurnakan garis-garis itu menjadi;
“Kamu pasti bisa, Nikmah…!”, Ayo Semangat Nikmah…!
Terima kasih atas kebaikan dan kepercayaan yang telah kalian tanam
Bagiku kehadiran kalian laksana kupu-kupu yang melukis hati dengan
Warna sayapnya dan menggendongku terbang menjemput tropi S2

Bapak..., Ibu…!
Kenapa kalian tak pernah lelah menyusun hari-hariku
Malah kalian bangun tubuhku dari bongkahan impian dan keteguhan
Menghadapi gedung-gedung peristiwa
Setiap hari kalian aspal jiwaku dengan huruf-huruf yang teduh
Dan diakhir langkahku di ITS kalian mengatakan padaku: Nikmah, Selamat ya…!
Terima kasih Bapak Hamzah…!
Terima kasih Ibu Nurul…!
Sungguh kasih sayang dan perhatian kalian tak terbatas oleh waktu